
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mempercepat agenda digitalisasi sistem pembayaran sebagai bagian dari strategi memperkuat fondasi ekonomi daerah. Bersama Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Pemprov DKI mendorong perluasan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang kini menjadikan Jakarta sebagai kontributor sekitar 38 persen dari total transaksi QRIS nasional. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut capaian ini sebagai hasil kolaborasi lintas otoritas yang menyasar berbagai sektor, termasuk pasar rakyat.
Menurut Pramono, seluruh 153 pasar yang dikelola Pemprov DKI Jakarta telah menggunakan sistem pembayaran digital berbasis QRIS. Adopsi pembayaran nontunai juga meluas ke pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dengan sekitar 422 ribu pelaku usaha di Jakarta tercatat memanfaatkan transaksi digital dalam menjalankan kegiatan usahanya. Pramono mendorong percepatan lanjutan lewat kompetisi digitalisasi pasar yang melibatkan dinas terkait, perbankan, dan pengelola pasar untuk menggenjot volume transaksi.
Penguatan digitalisasi ini sejalan dengan agenda transformasi ekonomi Jakarta yang tidak lagi hanya bertumpu pada sektor perdagangan dan jasa. Pramono menegaskan sektor ekonomi kreatif, sports and lifestyle, serta industri Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE) disiapkan sebagai tumpuan ekonomi baru ibu kota. Pada triwulan I 2026, ekonomi Jakarta tumbuh 5,59 persen dengan kontribusi 16,67 persen terhadap perekonomian nasional, yang menurut dia mencerminkan semakin kokohnya struktur ekonomi daerah, didukung oleh perluasan basis UMKM dan pemanfaatan teknologi digital.
Pemprov DKI juga mengandalkan program JakPreneur untuk memperkuat daya saing UMKM melalui peningkatan kapasitas usaha, perluasan akses pembiayaan, pengembangan pasar, dan akselerasi digitalisasi. Pramono menekankan bahwa berbagai inisiatif tersebut dirancang untuk memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi dirasakan lebih merata oleh masyarakat, sekaligus mempercepat target Jakarta masuk jajaran 50 kota global pada 2030. Dengan porsi besar transaksi QRIS nasional dan basis UMKM yang meluas, Jakarta menempatkan digitalisasi dan ekonomi kreatif sebagai pilar utama strategi pembangunan ekonominya.

Silicon Saxony schärft sein Profil als europäischer Technologiestandort – und setzt dabei zunehmend auf hochspezialisierte Anwendungen. Mit dem Zukunftscluster SEMECO (Secure Medical Microsystems and Communications) startet in Dresden die zweite Förderphase für medizinische Halbleiter, während die sächsische Halbleiter- und Softwarebranche trotz schwacher Konjunktur weiter Beschäftigung aufbaut. Branchenangaben zufolge ist die Zahl der Jobs in diesem Ökosystem binnen eines Jahres um 1.500 auf rund 82.500 zum Stichtag 30. September 2025 gestiegen, ein Plus von knapp zwei Prozent gegenüber dem Vorjahr.
SEMECO entwickelt medizinische Halbleiter als Schlüsseltechnologie für sichere, vernetzte und intelligente Medizintechnik. Für die kommenden drei Jahre erhält der Cluster im Rahmen der Clusters4Future-Initiative des Bundesministeriums für Bildung und Forschung (BMBF) bis zu 15 Millionen Euro Fördermittel. Der Freistaat Sachsen begleitet das Bündnis seit Beginn und unterstützt zusätzliche regionale Forschungs- und Entwicklungsprojekte über die EFRE-Technologieförderung 2021 bis 2027. Seine aktuellen Entwicklungen präsentiert SEMECO auf den Silicon Saxony Days, die vom 15. bis 17. Juni 2026 in Dresden stattfinden sollen.
In der zweiten Förderphase richtet SEMECO den Fokus stärker auf standardisierbare medizinische Halbleiterplattformen und deren Transfer in industrielle und klinische Anwendungen. Die spezialisierten Mikrosysteme bündeln Sensorik, Datenverarbeitung, sichere Kommunikation und KI-gestützte Funktionen, zugeschnitten auf Anforderungen der Medizintechnik. Auf Basis eines modularen Plattformansatzes entstehen kombinierbare Halbleiter-, Elektronik- und Softwarekomponenten, die sich sicher integrieren und schrittweise weiterentwickeln lassen. KI-gestützte Methoden sollen zudem Zertifizierung und Zulassung unterstützen und damit den Technologietransfer in die medizinische Praxis beschleunigen – von tragbaren Ultraschallgeräten und intelligenten Vitaldatensensoren bis zu Kommunikationsimplantaten für Menschen mit eingeschränktem Hör- und Sprachvermögen.
Parallel dazu sieht der Branchenverband Silicon Saxony den gesamten Standort vor einer neuen Wachstumsphase. Das jüngste Beschäftigungsplus verteilt sich nach Verbandsangaben nahezu gleichmäßig auf Halbleiterindustrie und Softwarebranche. Die Investitionen der vergangenen Jahre entfalteten zunehmend Wirkung, sagte Frank Schönefeld, Vorsitzender des Präsidiums von Silicon Saxony. Vor dem Hintergrund der gesamtwirtschaftlich schwachen Lage unterstreiche die Entwicklung die langfristige Attraktivität des Standorts. Entlang der gesamten Wertschöpfungskette – von großen Fabrikprojekten bis zu mittelständischen Zulieferern für Reinraum- und Fabrikinfrastruktur, Spezialgase, Chemikalienversorgung und Messtechnik – rechnet der Cluster mit zusätzlichen Impulsen durch Künstliche Intelligenz, Digitalisierung und technologische Souveränität. Die Prognose von mehr als 100.000 Beschäftigten bis zum Ende des Jahrzehnts bleibt aus Sicht des Verbands unverändert bestehen.